Gunung Bukitjarian atau masyarakat sekitar lebih mengenal Gunung Geulis terletak di Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang memiliki ketinggian 1.281 mdpl. Ketinggian gunung tersebut meraih peringkat 48.529 dari 106.826 gunung di dunia. Gunung tersebut biasa didaki untuk menikmati keindahan alam Jatinangor dari ketinggian. Pendakian ke puncak dapat di tempuh dengan waktu rata-rata 3 jam dan 2 jam untuk menuruninya. Jalur yang biasa di lewati adalah dengan melalui Desa Jatiroke, di desa itu juga terdapat tambang batu.

Di puncak terdapat beberapa makam dan sebuah pohon beringin besar, konon katanya disana ada makam seorang putri bernama Putri Geulis. Putri Geulis memiliki wajah yang menawan, namun ia meninggal diperkosa dan dibunuh lalu dimakamkan di puncak gunung tersebut, dari situlah nama Gunung Bukitjarian lebih dikenal dengan nama Gunung Geulis.

Saya bersama teman-teman Himpunan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Himaka Fikom Unpad) melakukan pendakian pada hari Jumat, 30 Oktober 2011 pukul 00:23 WIB dengan maksud mengibarkan bendera Himaka Fikom Unpad di puncak dalam rangka Ulang Tahun Himaka Fikom Unpad ke-26 yang jatuh pada hari ini 1 Oktober 2011. Dengan izin Allah SWT kami ber-25 orang sampai di puncak kira-kira pukul 03.30 WIB. Disana kami membuat api unggun guna menghangatkan tubuh kami sambil menunggu matahari terbit di ufuk timur, sungguh indah melihat lampu-lampu jalanan yang menghiasi Jatinangor dari ketinggian. Sangat disayangkan cuaca yang berkabut membuat pemandangan matahari terbit tertutup menjadi kurang Indah. Pukul 07.30 WIB kami menuruni gunung dan sampai kembali lagi di Desa Jatiroke pukul 10.00 WIB. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan di pengakhir tahun ini. Selamat ulang tahun Himaka Fikom Unpad dan Sampai jumpa kembali Gunung Geulis di lain kesempatan🙂

Sumber:

Wikipedia Indonesia : Jatinangor, Sumedang. http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang [1 Oktober 2011]

Taufik Akbar R. “Jatinangor Pisan.” Ketika Pagi Menyatu di Gunung Geulis. 2008. http://jatinangorpisan.blogspot.com/2008/01/ketika-pagi-menyatu-di-gunung-geulis.html [1 Oktober 2011]

Mountains Mounts : Gunung Bukitjarian Mountain. http://www.mountainsmounts.com/mountain/48259/gunung-bukitjarian/ [1 Oktober 2011]

Posted: October 1, 2011 in Journal, Photography

Laporan oleh: Hera Khaerani
[Unpad.ac.id, 27/05] Mungkin tak berlebihan kalau dikatakan bahwa teknologi mengubah dunia. Teknologi tidak hanya mengubah sejarah, budaya, organisasi sosial, model pendidikan, dan model bisnis, teknologi bahkan mengubah cara berpikir.
Demikian antara lain salah satu poin acara seminar bertema “Marketing Informasi: Menjadi Entrepreneur Informasi Profesional Berbasis Internet” yang digelar Himpunan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad dalam rangka dies natalis ke-25 program studi tersebut di Aula Pusat Pelatihan Basic Science Universitas Padjadjaran Jatinangor, Kamis (27/5).
Staf Ahli Menkominfo Republik Indonesia, Drs.Henry Subiakto, SH., MA., yang hadir sebagai pembicara dalam seminar itu mengatakan, perkembangan teknologi menyebabkan peluang bisnis terbuka luas dan larangan untuk usaha-usaha baru semakin sedikit. Meski demikian, hanya orang-orang yang memiliki kreativitaslah yang bisa bertahan dan sukses di tengah persaingan yang demikian tinggi.
Turut hadir sebagai pembicara hari itu adalah Iwan Piliang, seorang jurnalis yang turut memanfaatkan internet sebagai media usaha dan aktualisasinya. Menurutnya, pengusaha adalah orang yang memiliki produk, barang atau jasa. Seseorang tidak bisa disebut pengusaha kalau dia tidak memiliki produk yang hendak ditawarkan. Saat ini dengan adanya perkembangan teknologi, informasi pun bisa menjadi komoditas yang ditawarkan. Media online menjadi salah satu media yang memudahkan kegiatan usaha ini.
Dra.Hj. Ninis Agustini, M.Lib., dosen pakar marketing informasi yang juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut menjelaskan, “Dalam marketing informasi, kita berarti memasarkan pesan.”
Menurut Ninis, setidaknya ada empat tahapan yang perlu diperhatikan dalam mengelola informasi. Keempat tahap itu adalah pengumpulan informasi, pemrosesan, distribusi, dan preserving. Pada saat informasi dikumpulkan, ia juga diseleksi dan disesuaikan dengan untuk siapa kelak informasi itu disampaikan. Dalam prosesnya, pesan dikemas agar lebih mudah digunakan, baru didistribusikan. Sementara tahap terakhir menyangkut perpanjangan daya guna agar pesan dibutuhkan dalam jangka waktu yang lama. (eh)*

sumber:http://www.unpad.ac.id/archives/25667

quotes:

Posted: May 4, 2010 in Quote

“saat seseorang membicarakan kekurangan anda, anggaplah itu sebuah koreksi gratis”

Contoh Abstrak

Posted: April 28, 2010 in Knowledge

Abstrak Informatif

Abstrak:

Studi ini dilakukan secara deskriptif terhadap 32 akseptor vasektomi. Data dikumpulkan sengan metode wawancara berdasarkan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa status kesehatan dari 93,7 persen responden menyatakan tidak pernah sakit akibat vasektomi dan 6.3 persen menyatakan pernah sakit tetapi bukan akibat dari vasektomi. Dari perilaku seksual dapat diketahui bahwa dorongan seksual (libido) 62,5 persen menyatakan tidak ada perubahan, 25 persen terdapat peningkatan, dan 25 persen terdapat peningkatan, dan 12,5 persen menurun; terhadap gairah seksual 65,6persen menyatakan tidak ada perubahan, 34,4 persen meningkat, dan 0 persen menurun; terhadap frekuensi senggama 43,8 persen menyatakan melakukan senggama 1-2 kali perminggu; terhadap kepuasan seksual 63 persen menyatakan tidak ada perubahan, 21,9 persen libih nikmat, dan 15,1 persen kurang nikmat; terhadap keluhan seksual pada istri 96,9 persen menyatakan tidak ada keluhan 3,1 persen terdapat keluhan. Dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya kegagalan vasektomi. Hasil  penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai upaya pengayoman peserta KB dengan vasektomi, serta untuk evaluasi program vasektomi.

Abstrak:

Penelitian ini dilakukan secara asosiatif terhadap gaya kepemimpinan situasional manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas pada PT. Innovator Indonesia yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara pemberitahuan yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, bagaimana hubungan antara promosi yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, bagaimana hubungan antara partisipasi yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, dan bagaimana hubungan antara pendelegasian manajer dengan kesiapan karyana dalam menyelesaikan tugas. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, observasi, penyebaran angket, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat hubungan antara pemberitahuan yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, tidak terdapat hubungan antara promosi  yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, tidak terdapat hubungan antara antara partisipasi yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas, dan tidak terdapat hubungan antara pendelegasian yang dilakukan manajer dengan kesiapan karyawan dalam menyelesaikan tugas.


Hal yang harus diperhatikan dalam membuat abstrak:

1. Abstrak tidak berparagraf

2. Spasi 1

3. Sebaiknya tidak lebih dari 200 kata

4. Berdiri sendiri

5. Tidak boleh menambahkan informasi atau kesimpulan yang tidak ada dalam penelitian

6. Hindari penggunaan akronim

Yang butuh bahan Strategi Pemasaran Jasa Perpustakaan bisa di download di:

Strategi Pemasaran Jasa Perpustakaan oleh: Purwono

Photobucket

Free Like Bird

Photobucket

Photobucket


Kualitas suatu perpustakaan dapat dilihat dari layanan reference dan resourcenya.

Topik:

  1. Konsep-konsep layanan reference
  2. Berbagai pengertian layanan-layanan reference
  3. Fungsi reference
  4. Koleksi reference, pustakawan reference, kompetensi yang bersifat profesional, personal, dan bahasa non-verbal
  5. Pertanyaan Reference
  6. Teori-teori reference

Konsep-Konsep Reference Service (Oleh W.A. Katz)

  1. Pustakawan reference sebagai mediator antara sumber informasi dangan pemustaka (user)

Sumber informasi menurut Parker dan Tunley:

  1. Perpustakaan
  2. Buku atau bahan pustaka
  3. Organisasi
  4. Orang/Individu

Mediator yang baik:

  1. Mengumpulkan (to collect), pada saat mengumpulkan koleksi pustakawan akan melakukan seleksi pada sumber informasi.
  2. Mengolah (processing) untuk mempermudah dalam penelusuran informasi.
  3. Mendistribusi (disseminate) lebih cepat lebih baik.
  4. Pelestaraian (Preserve).
  5. Pustakawan reference harus mampu memberikan layanan secara total.

Tahapan layanan (oleh Samuel Rothstein)

  1. Layanan refence yang bersifat konservatif (apa adanya); tidak melayani secara total karena kemampuan pustakawan yang terbatas.
  2. Layanan reference yang moderatif; layanan yang sudah bisa memandu, namun belum total.
  3. Layanan refernce yang liberal; layanan yang telah total atau mencapai validitas informasi kepada user.

Pengertian Layanan Refernce (oleh W.A. Katz)

Berakar dari bagaimana menjawab pertanyaan reference

  1. User – meminta informasi yang dibutuhkan
  2. User – meminta sumber informasi

Deskripsi layanan reference (oleh M. Winchall)

  1. Menyeleksi koleksi reference yang memadai dengan melihat: jenis perpustakaan, penekanan fungsi, siapa mayoritas pengguna
  2. Membuat Index, bibliografi, abstrak, dan buku petunjuk untuk mempermudah kegiatan penelusuran informasi.

–          Index adalah daftar istilah atau item yang disertai lokasi istilaj itu dapat ditemukan.

–          Bibliografi menurut Stephen Gazelee adalah studi menyeluruh yang menyangkut aspek fisik dan intelektual tentang suatu bahan pustaka.

–          Abstrak adalah bentuk pemadatan dari bahan pustaka.

  1. Memberikan pelatihan kepada pustakawan reference yang masih muda sehingga tercipta suatu ‘teamwork’ yang baik.

Kualifikasi pustakawan reference menurut Higgens:

  1. Harus mempunyai pengetahuan umum yang luas

Mempunyai a sense of media.

Cara mempertajam a sense of media menurut W.A. Katz

  1. Harus mampu mengelompokan koleksi reference

–          Direct Source Type

Koleksi reference yang dapat memberikan informasi secara langsung.

Contoh: kamus, Ensiklopedia

–          Indirect Source Type

Koleksi reference yang tidak dapat memberikan informasi secara langsung.

Contoh: katalog, bibliografi, indeks, abstrak

  1. Pustakawan reference harus mengetajui kandungan informasi dari masing-masing jenis koleksi reference.

2.  Harus mampu berkomunikasi secara efektif

1. Menulis

2. Membaca

3. Mendengarkan

4. Berbicara

3.  Harus mempunyai pengetahuan reference tools.

Contoh; abstrak, bibliografi, katalog, dll.

4.  Harus mampu berpikir analitis.

5. Harus mempu menghentikan pada tahapan mana layanan reference harus dihentikan atau dilanjutkan ke pusat informasi lainnya.